Tuesday, September 11, 2012

Keliling Bangkok dengan Bus Kota

6 Comments

Taksi di Bangkok relatif murah dibandingkan dengan taxi di ibu kota negara lain di dunia, tapi taxi tidak selalu menjadi pilihan terbaik. Beberapa pengemudi taxi tidak mau menggunakan argo, beberapa lagi mungkin tidak tahu tempat tujuan yang Anda inginkan dan beberapa pengemudi lainnya bahkan langsung menolak  membawa Anda ke manapun.
Skytrain BTS dan kereta bawah tanah MRT masih terbatas jangkauannya, sehingga bus Thailand masih sangat bermanfaat untuk menjangkau kota-kota dan propinsi terpencil tanpa harus naik taksi  atau mobil pribadi. Dalam area Bangkok dan sekitarnya, tiket bus mulai dari yang gratis hingga 18 Baht dan Anda dapat menumpang bus malam VIP menuju ke Phuket atau Hat Yai maksimal 1500 Baht.  Sistem bus tidak terlalu mudah dijelaskan di peta, jadi ini adalah panduan bagi para pemula pengguna bus untuk para backpacker di Bangkok.

Dalam area Bangkok dan sekitarnya:

Pertama-tama, lakukan penelitian, kunjungi BMTA (www.bmta.co.th/en) untuk mendapatkan gambaran umum. Peta-peta tidak sangat menolong, tetapi rute/nomor bus telah terdaftar di  semua tempat wisata utama. Jika Anda punya waktu (beberapa rute bus mengular di seluruh kota dan terjebak dalam kemacetan lalu lintas dalam waktu yang lama), Anda bisa pergi ke mana saja di kota untuk beberapa Thailand Baht .
Ada perbedaan  warna bus untuk zona yang berbeda. Nama-nama mereka dalam bahasa Thai dan sering sekali mereka tidak berhenti di halte yang seharusnya, jadi Anda harus tahu nomor rutenya dan tekan tombol ketika akan turun – mintalah teman sesama penumpang untuk mengingatkan jika Anda tidak yakin dengan nama halte. Halaman wikipedia memiliki panduan yang baik untuk rute dan warna bus: http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_bus_routes_in_Bangkok

Setelah naik bus, tunggu kondektur memberikan tiket dan berpeganganlah jika tidak mendapat tempat duduk-- sopir bus di Bangkok sudah dikenal tidak menaati hukum fisika. Bus juga bisa sangat padat saat jam sibuk pada hari kerja, jadi jangan berharap bisa leluasa pada jam - jam tersebut, atau sebaiknya hindari jam-jam sibuk.

Bus gratis:
Untuk tumpangan gratis yang sesungguhnya, ada bus gratis, yang pada awalnya sulit bagi orang asing untuk melihat. Tetapi sekali Anda mengetahuinya, selanjutnya Anda akan mengenali mereka. Ini hanya bus biasa dengan stiker biru dengan tulisan Thai ditempelkan di dash board pengemudi, jendela depan bagian atas, di atas pintu samping dan/atau di jendela belakang. Jika ragu, tunjuk saja dan tanya seseorang: 'Gratis?’

Bus jarak jauh

Dari Terminal Bus Ekkamai:
Mudah sekali untuk menemukan terminal ini: tepat di stasiun BTS Ekkamai. Bus-bus di sini melayani  tujuan di sisi timur Teluk Thailand, dari Pattaya sampai dermaga Leam Ngop di Provinsi Trat. Anda dapat pergi ke sana untuk memesan tiket beberapa hari atau bahkan beberapa jam sebelumnya atau pesan online melalui Thai Ticket Major dan membayar dengan kartu kredit atau via bank, 7-Eleven atau kantor pos - pilihan yang cukup nyaman jika Anda khawatir tidak mendapat tempat duduk. http://www.thaiticketmajor.com/bus/buy-bus-tickets_eng.php.

Dari Terminal Bus Selatan yang Baru (Sai ​​Tai Mai):
Ini adalah terminal besar dengan mal, pujasera, warung, jaringan restoran dan lusinan kios, namun semua ditandai dengan jelas. Bus-bus di terminal ini melayani semua tujuan utama di sisi Barat Teluk Thailand, termasuk Hua Hin, Chumpon, Koh Samui, Phuket, Krabi dan Hat Yai.

Bagian paling sulit adalah untuk sampai  di sini - Sai Mai Tai dijangkau setidaknya 30 menit berkendara dari stasiun kereta api Hua Lamphong atau BTS Wongwian Yai – bahkan hingga satu jam di saat jam sibuk pada hari Jumat, ketika susah sekali memanggil taksi. Sebagian besar bus malam berangkat jam 7 -9 malam, sehingga lebih baik tiba di terminal ini lebih awal (paling lambat jam 4 sore) dan menghabiskan waktu di terminal untuk menghindari kemacetan lalu lintas dan berpotensi ketinggalan bus Anda.
Cara tercepat mencapai terminal ini adalah menumpang  taksi dari stasiun Hua Lamphong atau Jalan Khao San. Dari BTS Wongwian Yai ke terminal ini jaraknya sama, tapi sulit menemukan taksi di sini. Untuk wisatawan dengan sedikit barang bawaan , ada bus umum (no. 515) dan minivan yang berangkat dari Victory Monument menuju ke Sai Mai Tai. Tiket bus dapat dipesan di terminal (rambu dalam bahasa Inggris), tapi untuk perjalanan di akhir pekan yang panjang lebih baik memesan seminggu sebelumnya - yang paling nyaman melalui Thai Ticket Major atau melalui agen perjalanan lokal.
Peringatan: ada terminal lama Sai Tai, tetapi sopir taksi kebanyakan sudah tahu untuk tidak membawa Anda ke sana.

Terminal Bus Mo Chit:
Mirip dengan Sai Mai Tai, hanya saja terminal  ini melayani semua tujuan utama di Thailand Utara dan Timur Laut Thailand (Isaan) - Kanchanaburi, Chiang Mai, Chiang Rai, Nan, Mai Sod dll., dengan beberapa tujuan di Thailand Selatan juga. Anda dapat menumpang taksi kesana atau naik BTS ke stasiun Mo Chit dan kemudian naik taksi (karena terlalu jauh untuk berjalan). Ini adalah terminal besar, dilengkapi papan berbahasa Inggris, warung makan, ATM, kios, toko, loket penjualan tiket, restoran dan tempat pijat.

Dari bandara Suvarnabhumi:
Jika Anda ingin berhemat, gunakan Bus antar-jemput bandara. Empat rute yang berbeda mencakup hotel –hotel terkenal di Bangkok – sangat menolong  jika hotel Anda adalah salah satu tempat dimana bus berhenti dan Anda tidak perlu bersusah payah dengan bagasi Anda di stasiun Airport Link. Biaya antar jemput ini cuma 150THB, dan beroperasi antara jam 5 pagi hingga tengah malam.

Friday, September 16, 2011

Singapore City Sightseeing and Kuala Lumpur Hop On Hop Off Bus

4 Comments

Review ini kami sampaikan dengan tujuan untuk memberikan sedikit masukan dan panduan untuk para pelancong yang akan ke Singapura dan Malaysia. Tepatnya untuk Budgeted FIT (Free Individual Traveler) yang tidak ikut dalam paket tour.
Perjalanan kami mulai dari Bali menuju Singapura pada tanggal 28 Agustus 2011 bertepatan pada libur lebaran. Kami berangkat dari Denpasar menggunakan Air Asia yang berangkat pukul 06:55 pagi dengan pertimbangan kita bisa sampai di Singapore pagi hari sehingga masih punya waktu untuk jalan-jalan.
Kami tiba di Changi Singapura pukul 09:30 pagi dan kami langsung merasakan suasana yang sangat berbeda. Airport di Changi sangat bersih, rapih dan tergolong mewah. Lantai berkarpet, semua ruangan ber AC dan yang sangat membantu adalah free internet access yang sangat cepat.



Changi Airport Singapore


Dari Airport kami langsung menuju hotel dengan menggunakan MRT. Kami dibantu oleh petugas polisi di bandara pada saat kami membeli kartu. Yang patut kami acungi jempol adalah sikap suka menolong masyarakat Singapore. Melihat kita pendatang mereka aktif menanyakan dengan kalimat yang khas “where to go?” dengan logat Singapore nya.
Sesampainya di hotel sekitar pukul 11:00 kami langsung check in dan kebetulan kamar yang saya pesan sudah hampir siap jadi kami hanya menunggu sekitar 30 menit saja di lobby. Kami tinggal di guest house di North Bridge Road yang ternyata hotel tersebut sangat strategis karena dekat dengan Bugis Juction, City Hall, MRT station, Bus Stop (halte), Bugis Village, restaurant (halal atau non halal), Raffles Hospital dan Masjid Sultan Singapore.

HARI ke 1: Merlin Park, Esplanade, MBS, Orchard Road dan Little India

Setelah beristirahat sejenak pada pukul 13:00 kami berjalan kaki sambil membawa peta Singapore melewati Raffles Hotel, City Hall dan masuk ke City Link Mall. Kami membeli makan siang untuk anak-anak kami di McDonald yang berada di pintu keluar City Link Mall tersebut. Setelah selesai makan siang kami membaca peta untuk menuju Esplanade dan Merlion Park. Merlion Park berada di sebelah kanan McDonald apabila kita berdiri menghadap restaurant tersebut. Kami berjalan lurus saja melewati underpass yang berujung di dekat Esplanade. Jangan kawatir dengan tangga karena di Singapore tangga dan escalator selalu bedampingan. Kami sempat bertemu dangan 2 turis asing dari Taiwan dan Puerto Rico yang kebetulan mereka juga mau ke Merlion Park.
Kami istirahat di samping Esplanade untuk berfoto-foto karena kebetulan pemandangannya sangat bagus dimana kita bisa melihat Marina Bay Sand (MBS) dan Merlion Park dari kejauhan. Setelah puas kami melanjutkan berjalan kaki menuju Merlion Park. Merlion Park adalah tempat yang wajib dikunjungi karena ini adalah Icon Pariwisata negara Singapura.


Marina Bay Sand dan Merlion Park

Dari Merlion Park kami berencana pergi ke MBS (Marina Bay Sand) dengan menggunakan taxi tetapi kebetulan ada sopir mobil Pariwisata menawarkan jasa mengantarkan ke sana dengan biaya S$15. Tanpa pikir panjang kami menyetujui tawaran tersebut dan kami sempatkan mampir di Masjid (kami lupa namanya) untuk Sholat.
Sesampainya di sana kami tidak jadi naik ke atas karena pada hari Minggu kita tidak bisa masuk mendekati kolam renang. Kemudian kami putuskan untuk pergi ke Orchard Road dengan menggunakan Taxi yang biayanya sekitar S$6. Sesamapainya di Orchard Road kami jalan-jalan di sekitar Lucky Plaza namun hanya sebentar karena menurut kami tidak ada hal yang special di daerah ini (hanya Mall/Pusat perbelanjaan). Sekitar 1 jam berjalan-jalan di Orchard kami kembali ke Hotel untuk istirahat.
Malamnya setelah buka puasa kami pergi ke Little India yang jaraknya tidak jauh dari hotel kami menggunakan taxi. Kami menukarkan uang Rupiah kami ke Singapore Dollar di tempat ini. Sepertinya mereka sudah biasa menerima penukaran uang Rupiah karena begitu saya bilang kalo kami mau menukar uang petugasnya sudah menyodorkan kalkulator dengan angka sambil berkata “One Juta”. Kalo kami hitung ratenya tidak jauh berbeda dengan rate di Bali S$1=Rp. 7.050.
Kami berjalan-jalan di sekitar Mustafa Mall yang buka 24 jam sebelum masuk ke sana. Kami kemudian makan malam di Roof Top Restaurant yang menyajikan masakan India. Makanan di restaurant ini sangat lezat dan dapat diterima oleh lidah Indonesia. Kami memesan makanan semacam kari ayam dan roti nanh.
Kami bisa Merekomendasikan Restaurant Ini.


Hari ke 2: Sentosa Island, China Town dan Clarke Quay
Pagi hari pukul 09:00 kami sudah bersiap-siap untuk menuju Sentosa Island. Dari hotel kami menggunakan Taxi menuju Sentosa Island yang jaraknya lumayan jauh sehingga kita membayar sekitar S$ 13. Perlu diketahui taxi di Singapura ini banyak aturannya seperti maximal 4 penumpang (akan ditolak apabila lebih dari 4 orang), untuk naik taxi harus antri di halte taxi, harga argonya bermacam macam tegantung situasi (Night Price, Peak hour Price, Holiday Price dsb) yang mana akan ada biaya tambahan di jam atau hari tersebut.
Sesampai di Vivo City kami sempatkan untuk jalan-jalan dulu di dalam dan sekitar Mall. Setelah puas kami lanjutkan perjalanan naik Monorel dengan biaya S$3/orang untuk menuju ke tempat wisata. Monorel tersebut akan berhenti di 3 Stasiun yaitu Water Front, Imbah Station dan Beach Station.
Water Front Station adalah pemberhentian untuk masuk ke Universal Studio dan World Resort Sentosa. Tiket masuk (Day Pass) untuk ke Universal Studio adalah S$66 untuk Dewasa dan S$48 untuk anak-anak. Sedangkan untuk masuk ke Sentosa (Day Pass) S$69.90 untuk dewasa dan S$51.90 untuk anak-anak. Setelah puas di tempat tersebut kami kembali ke station Water Front dan naik monorel lagi menuju Imbah Station
Imbah Station adalah pemberhentian untuk menuju ke Merlion Plaza, Imbah Lookout dan beberapa atraksi yang lain. Akhirnya kami mencoba menaiki Tiger Sky Tower dengan tiket S$15 dewasa dan S$10 anak-anak. Kita diajak untu melihat kota Singapura dari ketinggian 110 meter.
Setelah puas kami kembali lagi ke Imbah Station untuk naik monorail ke Beach station
Beach Station adalah pemberhentian ke tiga (terakhir) dimana di sini kita bisa naik shuttle bus gratis ke Siloso Beach dan Palawan Beach. Begitu sampai di stasiun kami langsung menuju Shuttle bus yang menuju Siloso Beach. Kami turun di Siloso beach untuk ambil foto dan jalan-jalan sekitar 30 menit. Kemudian kami ikut shuttle bus lagi untuk kembali ke halte yang pertama.
Sesampainya di halte yang pertama kami pindah ke halte yang lainnya untuk naik shuttle bus menuju Palawan Beach. Kami tidak turun dari Bus waktu di Palawan Beach karena kebetulan sedang hujan jadi kami hanya berkeliling saja menggunakan bis.


Universal Studio, Tiger Sky Tower dan Resort Worls Sentosa

Sekitar pukul 16:00 kami meninggalkan Sentosa menuju ke China Town. Sesampainya di China Town kami langsung menuju ke traditional market untuk mencari oleh-oleh. Keadaan traditional market di sana sangan berbeda 180 derajat dengan di Indonesia. Toko-toko tertata rapi dan yang terpenting adalah tempat disana sangat bersih. Kami belanja oleh-oleh disana sebagai gambaran untuk membeli pernik-pernik yang kecil seperti gantungan kunci, pen, plakat harganya sekitar S$2-S$10. Sedangkan untuk Baju atau kaos mulai dari S$10-S$15. Kami menyarankan kalo mau beli oleh-oleh sebaiknya di China Town

Malamnya kami jalan-jalan ke River Side/Clarke Quay dan naik perahu menyusuri sungai. Kita bisa beli tiket untuk 1 way atau return. Kami membeli tiket untuk 1 way (saya lupa harganya) turun di Merlion. Saya sempat bingung ketika penjaga tiketnya bilang MELAYA. Ternyata yang di maksud adalah Merlion.


China Town, Clarke Quay dan Traditional Market


Hari ke 3: Sholat Ied, MBS, Singapore Sightseeing Bus
Pukul 07:30 pagi kami sudah siap untuk jalan menuju Masjid guna menunaikan Shalat Ied yang di Singapura jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011. Hanya sekitar 300 meter dari hotel dan yang saya salut kepada masyarakat Singapura adalah apabila kami bertemu dengan warga setempat dari etnis Cina atau India mereka selalu berkata “Selamat Hari Raya”. Selain itu pada saat menyeberang jalan setiap orang tidak akan menyeberang sampai lampu lalu lintas berubah hijau untuk peneyeberang jalan walaupun jalan sudah sepi.
Sholat Ied dilaksanakan pukul 08:30 dan setelah selesai sholat Ied kami melanjutkan untuk makan pagi di McDonald Bugis Village yang dekat dengan pasar tradisional. Satu tips dari saya, jangan sekali-kali meijat-mijat buah-buahan untuk memeriksa apakah buah tersebut matang atau tidak apabila anda mau membeli buah. Penjual buah akan langsung marah apabila melihat kita melakukannya.
Setelah makan pagi kami melanjutkan perjalanan menuju Marina Bay Sand. Sesampainya di MBS kami membeli tiket seharga S$20 per orang untuk naik ke lantai paling atas, lantai 57. Disana kami mengambil beberapa foto dan jalan jalan. Yang sangat miris adalah dibangunnya beberapa bangunan baru di sekitar MBS namun pasir dan tanah yang digunakan adalah dari Indonesia. Hal ini biasa dibicarakan bahkan oleh seorang sopir taxi.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Sun Tec City dengan harapan kami bisa naik Duck Tour (Mobil Amphibi). Kami harus gigit jari karena tiketnya sudah habis terjual untuk hari itu. Tanpa disengaja kami mendapati Topless Bus terparkir dengan calon penumpang mengantri untuk naik. Kamipun akhirnya membeli tiket dan ikut naik bus ini.
Kami mendapatkan informasi bahwa City Sightseeing Bus ini memiliki 3 rute yaitu Original, Heritage dan City. Ini merupakan fasilitas dan kemudahan yang ditawarkan pemerintah Singapura kepada para turis yang berkunjung. Tiket bus ini berlaku 2 hari dengan harga S$18 dewasa dan $9 Anak-anak. Apabila membeli tiket combo (termasuk boat di Clarke Quay-kapal yang kami naiki) harganya US$ 33 dewasa dan S$17 anak-anak.
Saya sangat Merekomendasikan untuk naik bus ini karena sangat memudahkan kita untuk berpergian. Pola dari bus ini adalah setiap bus akan berjalan sesuai rute (Original, Heritage dan City) dan akan berhenti di halte tertentu. Setiap rute akan dilayani oleh beberapa bus sehingga jarak antara bis yang didepan dengan yang dibelakang sekitar 30-45 menit.
Sebagai contoh Heritage jalur ini akan melewati tempat-tempat bersejarah termasuk China Town, Little India, Rafles Statue dsb. Sehingga kita bisa naik dari Suntect City dan turun di Little India untuk jalan-jalan atau berbelanja dan kemudian naik bus HERITAGE yang berikutnya. Setelah naik bis HERITAGE berikutnya kita bisa turun di China Town untuk jalan-jalan dan naik bis berikutnya dan seterusnya untuk mengunjungi obyek wisata yang lain.
City akan melewati Orchard Road, Merlion, MBS dan sebagainya. Kita bisa naik dari Suntec City turun di Merlion Park untuk jalan-jalan. Kemudian lanjut naik bis CITY berikutnya turun di MBS. Kemudian setelah puas di MBS naik bis CITY berikutnya turun di Orchard Road untuk jalan-jalan. Demikian seterusnya selama 2 hari untuk mengunjungi tempat wisata yang lain.
Kita mendapat peta jalur bus lengkap dengan nomor halte dan tempat-tempat yang akan dilewati. Yang terpenting adalah kita harus membaca peta dan mengetahui di mana kita akan berhenti serta mendengarkan panggilan dari sopir bis.
Yang kami agak menyesal adalah mengapa kita baru tahu fasilitas ini pada hari terakhir kami di Singapura.


MBS Sky Garden dan City Sightseeing Bus

Malam harinya kami menghabiskan waktu di Bugis Juction dan kemudian kami makan malam di Bugis Village. Tanpa sengaja kami menemukan Thai Restaurant bernama Lerk Thai. Di restaurant ini tidak ada babi sehingga kami berani makan di restaurant ini dan ternyata semua keluarga cocok dengan rasanya. Setelah selama 3 hari kami makan makanan India akhirnya kami menemukan makanan yang cocok dengan lidah kita.
Kami merekomendasikan restaurant ini dan sebaiknya anda makan Thai Food apabila tidak menemukan masakan Indonesia.

Hari ke 4: Jalan Darat Singapura-Kuala Lumpur, City Tour dengan Hop On Hop Off Bus ke Istana Negara, Jalan Cendrawasih, Masjid Nasional, Dataran Merdeka, Petronas Tower, KL Tower dan Bukit Bintang
Kami harus bangun pagi dan makan pagi sesegera mungkin karena hari ini adalah perjalanan menuju Kuala Lumpur lewat darat. Kami telah membeli tiket ke Kuala Lumpur beberapa hari sebelumnya. Ada banyak pilihan bus ke Kuala Lumpur antara lain Delima, Sri Maju, Five Star dan Starmart Express yang semuanya pasti ber AC. Kami membeli tiket Startmart Express yang bertipe Double Deck Bus (bis tingkat) dan memilih untuk duduk di kursi atas. Ada satu tempat di Singapura yang bernama Golden Mile merupakan pusat penjualan tiket bus dari Singapura ke negara lain seperti Malaysia dan Thailand. Dibelakang counter tiket ini banyak terdapat restaurant Thailand dan supermarket khusus menjual bahan makanan Thailand.
Pukul 08:30 pagi kami sampai di Golden Mile dan melakukan check in di counter Startmart Express. Kami cukup puas dengan bis yang kami pilih karena bis nya cukup bersih, tempat duduknya 2 baris kanan dan 1 baris kiri, ada foot rest dan yang mengagetkan ternyata setiap tempat duduk ada 3 pilihan menu Massage. Itulah sebabnya di badan bus tertulis “Massage Coach” . Walaupun tidak ada toilet di dalam bus kami tidak begitu terganggu karena ada 4 kali pemberhentian selama perjalanan yaitu di exit immigration di Singapura, immigration di Malaysia, makan siang di Malaysia dan waktu mengisi bahan bakar di Malaysia. Mungkin para anggota BUS MANIA wajib datang ke Singapura untuk mencoba jalan darat menggunakan bus untuk menambah pengalaman.
Bus berangkat pukul 09:05 pagi dari Golden Mile menuju Kuala Lumpur. Walaupun bis bertingkat namun perjalanan cukup nyaman. Kami disuguhi pemandangan yang indah selama perjalanan dari Golden Mile sampai ke exit immigration. Setelah kami melapor di Immigration Malaysia untuk masuk negara Malaysia perjalanan dilanjutkan menuju Kuala Lumpur. Perjalanan ini melewati jalan tol sampai masuk kota Kuala Lumpur. Sepanjang perjalanan pemandangan tidak seindah pemandangan jalan tol di Indonesia. Bahkan apabila dibandingkan dengan pemandangan di tol Cipularang sangatlah jauh bedanya. Kami hanya disuguhi pemandangan kebun kelapa sawit dan bukit-bukit saja. Karena kami merasa jenuh maka akhirnya kami tertidur semua selama perjalanan.



Suasana di dalam Bus dan perjalanan dari Singapura ke KL

Kami tiba di Kuala Lumpur pukul 14:00 kemudian kami naik taksi menuju hotel di jalan Tengkat Tong Shin. Kami mengambil 2 taxi dengan biaya RM 10 / taxi karena peraturan taxi di Malaysia hampir sama dengan di Singapura. Pengalaman di Singapura kami bahas dengan keluarga seandainya di Malaysia ada bus seperti di Singapura maka akan memudahkan perjalanan kami.
Sesampainya di hotel kami check in dan kami sempat di tegur oleh staff hotel kalau kami harus mencopot sepatu/sandal apabila memasuki hotel. Kami tinggal di Anjung KL Guest House kawasan Bukit Bintang walaupun hotel kecil tetapi hotel ini sangat bersih dan strategis.
Do’a kami seolah-olah terkabul!! Kami melihat Hop On Hop Off bus melewati depan hotel kami!! Kami langsung bertanya kepada reception hotel dan memang benar bahwa itu tadi adalah Hop On Hop Off bus dan haltenya hanya 100 meter dari hotel namun mereka kehabisan tiket. Akhirnya kami berjalan ke halte untuk naik bus dan ternyata kita bisa langsung membeli tiket di atas bus seharga RM 38 Dewasa dan RM 17 anak-anak. Begitu naik ke atas bus kami langsung membaca peta untuk mengetahui rute dan Place of Interest yang akan di lewati beserta haltenya. Kami sepakat untuk turun di tempat yang penting dan menarik saja karena di peta ada sekitar 20an stop pints yang menurut kami tidak begitu menarik seperti Mall, Museum, tempat pertunjukan dan pasar. Kami langsung mempraktekkan pengalaman kami di Singapura dan pemberhentian pertama adalah China Town (Jalan Petaling) kemudian di Central Market tetapi karena kami pikir tempat ini masih dekat hotel maka kami tidak turun. Kami langsung menuju Istana Negara dan sesampainya di sana ternyata bus tersebut berhenti selama 30 menit. Kami sempat berfoto di depan istana negara bahkan dengan penjaga istana. Kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus yang sama dan berhenti di Jalan Cendrawasih dimana di daerah tersebut banyak obyek wisata seperti Bird Park, Orchid Park dan Monumen Tun Abdul Razak. Kami hanya berjalan-jalan di sekitar jalan Cendrawasih dan 30 menit kemudian kami naik bis berikutnya.
Pemberhentian berikutnya adalah Masjid Nasional Malaysia (National Mosque Malaysia). Karena bus berhenti 10 menit kami sempatkan untuk berfoto di halaman masjid yang kemudian melanjutkan perjalanan menuju Dataran Merdeka. Di depan dataran merdeka terdapat Sultan Abdul Samad Building yang mempunyai arsitektur yang indah. Kira-Kira 300 meter terdapat Museum Textile Negara yang juga mempunyai arsitektur yang indah. Pas cuaca panas kami melihat penjual Ice Cream keliling di dekat Dataran Merdeka dan tanpa pikir panjang kami serbu penjual Ice Cream. Disini bus menunggu sekitar 15 menit sehingga kita masih ikut bus yang sama.

Istana Negara dan Dataran Merdeka

Bus melanjutkan perjalanannya dengan rute berikutnya yaitu Petronas Tower. Sesampainya di sana kami turun dan kami diberitahu bahwa bus tidak berhenti di sini dan kami disarankan untuk ikut bus berikutnya sekitar 30 menit kemudian. Kami berjalan-jalan disekitar Petronas Tower dan kami bertemu banyak sekali TKI. Sayangnya banyak sampah di mana mana dan lalu-lintas kelihatan semrawut. Kami kemudian kembali ke halte untuk menunggu Bus yang berikutnya dan tidak begitu lama datanglah bus yang kami tunggu. Kami langsung naik dengan menunjukkan tiket yang kami beli. Kami langsung meluncur ke Menara KL (KL Tower). Di sana kebetulan bus berhenti sekitar 15 menit sehingga kami bisa ikut bus yang sama. Kami menuju rute berikutnya dan ternyata menuju perjalanan pulang melewati Bukit Bintang. Bus berhenti di halte yang sama pada saat kami pertama kali naik, meskipun melewati tepat di depan hotel kami tidak bisa seenaknya berhenti. Menuju perjalanan ke hotel kami melewati sebuah restaurant Thai Food dan tanpa pikir panjang kami langsung masuk ke restaurant tersebut untuk makan malam. Nama restaurant tadi adalah Chang Thai namun yang mencolok adalah papan nama Tropical SPA. Restaurant ini sangat mudah dikenali karena ada meja tertata di halaman depan restaurant. Karena makanannya enak, tidak ada masakan babi dan tempatnya yang bersih kami merekomendasikan restaurant ini. Malamnya kami melanjutkan jalan-jalan di Bukit Bintang dengan berjalan kaki. Suasana malam sangat indah dan ramai dimana sepanjang jalan dihiasi banyak lampu. Sepanjang Jalan Bukit Bintang banyak terdapat Mall, restaurant kebanyakan masakan Timur Tengah, hotel, money changer dan Massage.

Bukit Bintang dan Petronas Tower

Hari ke 5: Resort World Genting
Pukul 09:00 kami meninggalkan hotel untuk menuju Terminal Bus Pudu Raya dengan berjalan kaki selama 10 menit. Kami sangat terkejut dengan keadaan terminal bus tersebut yang bersih rapi dan mewah. Loby ber AC, lantai berkarpet dan yang pasti tidak ada calo tiket. Kami mengantri untuk membeli tiket bus ke Genting tetapi ternyata tiket sudah habis sampi pukul 13:30. Kami bertemu beberapa turis Indonesia yang mengalami nasib yang sama sehingga mereka membeli tiket baliknya Genting-Pudu Raya saja seharga RM 8,5/ orang. Dari Pudu Raya kami naik taxi ke Genting dengan biaya RM 80 / taxi yang memakan waktu sekitar 1 jam. Jalan tol dan jalan umum menuju Genting sangat halus dan lebar sehingga taxi yang kami tumpangi bisa lari sampai 140 km/jam walaupun menggunakan mobil Nissan Sunny lama.
Sesampainya di Genting kami membeli tiket masuk untuk seharga RM 309 untuk 4 dewasa dan 2 anak-anak. Ada dua wahana yaitu Outdoor dan Indoor Theme Park saran kami sebaiknya main di outdoor dulu kemudian main di Indoor untuk menghindari panas walupun Genting termasuk dataran tinggi yang dingin. Menurut saya DUFAN di Ancol dan Trans Studio Makasar jauh lebih bagus bila dibandingkan dengan Genting. Kami sempat mencoba kereta gantung dari satu stasiun ke stasiun yang lain pulang pergi. Harga untuk naik kereta gantung RM4/orang. Puas bermain seharian pukul 16:00 kami pulang dengan menuju terminal bus terlebih dahulu. Kami terkejut karena ternyata ada dua terminal bus yaitu di dekat Resort World Genting dan ditempat pemberhentian Sky Way Genting (tempat yang kami lewati saat naik kereta gantung). Bus yang dari Genting menuju Pudu Raya berangkat dari terminal Sky Way. Kami akhirnya ketinggalan bus karena seharusnya berangkat jam 16:30. Setelah berdiskusi lama akhirnya kami putuskan untuk tetap kembali ke Sky Way terminal dengan menaiki kereta gantung lagi. Di tiket bus yang kami beli ternyata sudah termasuk tiket Kereta Gantung. Sesampainya di terminal ternyata ada juga yang bernasib serupa dengan kami selain itu ada juga yang mengantri karena ingin memajukan jadwal keberangkatannya. Setelah melapor kami disuruh berdiri mengantri di sebelah bus dan yang ingin memajukan jadwal keberangkatannya mengantri di depan bus. Akhirnya kami dapat ikut dalam bus tersebut dan sampai di terminal Pudu Raya satu jam berikutnya.




Indoor dan Outdoor Theme Park di Resort World Genting

Hari ke 6: China Town dan Little India

Ini adalah hari terakhir liburan kami karena pesawat kami pukul 17:55 maka kami masih punya waktu yang banyak untuk jalan jalan ke China Town dan Little India. Kami sudah meninggalkan hotel pukul 09:00 pagi dan berjalan kaki menuju China Town (Jalan Petaling). Kami mampir ke sebuah warung sederhana untuk makan pagi. Kami memesan Nasi Lemak dengan lauk (seperti nasi campur) dan minum Teh Tarik dengan biaya RM 7 per orang. Sampai di China Town kami belanja oleh-oleh seperti kaos, gantungan kunci dan plakat. Di sini banyak dijual Kaos, celana, jaket dan sepatu merk terkenal made in China seperti Adidas, Nike, Quiksilver, Puma dsb dengan harga RM 20 – RM 35 untuk pakaian dan sepatu seharga RM 160. Setelah berbelanja oleh-oleh, kami melanjutkan perjalanan menuju Little India menggunakan bus kota dengan biaya RM 1 dewasa dan Cent 50 untuk anak-anak. Sesampainya di Little India kami jalan-jalan untuk mencari baju atau kain bermotif dan design khas India. Kami tiba di sebuah toko yang menjual kain dan pakaian India dimana kami langsung dilayani oleh pemiliknya (saya lupa nama toko dan nama pemiliknya). Setelah selesai dengan belanja dan jalan-jalan kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap ke Airport.

Little India

Sebenarnya ada cara yang lebih murah dari Kuala Lumpur ke LCCT yaitu dengan menggunakan bus dari Central KL ke LCCT. Karena tidak mau repot maka kami memesan taxi sehari sebelumnya untuk datang jam 13:30 dengan biaya dari hotel ke LCCT RM80 per taxi. Kami sampai ke hotel pukul 13:00 dan taxi datang pada waktu yang bersamaan. Setelah kami makan siang pukul 13:45 kami berangkat meninggalkan hotel menuju LCCT yang memakan waktu 1 jam. Sesampainya di LCCT kami memberikan uang RM100 kepada sopir taxi tetapi sopir taxi bilang bahwa dia akan mengembalikan RM 10 saja karena kami terlambat 15 menit dari jadwal sehingga total biaya yang harus saya bayar RM 90. Saya kaget dan sempat berdebat beberapa saat tapi kami ingat waktu orang tua kami pergi ke Eropa mengalami hal yang sama. Akhirnya kami ikhlaskan uang RM 10 tersebut.

Tiba pada saatnya kami terbang kembali ke Bali dan sampai di Bali dengan selamat. Banyak pelajaran yang kami peroleh dari perjalanan ini yaitu kedisplinan, kebersihan, fasilitas umum yang memadai, sikap yang suka menolong, toleransi dan menurut saya semua bisa dicapai melalui pendidikan yang memadai.

Semoga review ini bermanfaat

Selamat Mencoba




Friday, September 09, 2011

One Day Trip to Madura

3 Comments

Perjalanan ini kami lakukan pada saat Lebaran September 2010 tahun lalu. Rute dari perjalanan ini adalah Denpasar - Malang – Blitar – Kediri – Madiun – Gresik – Madura – Malang dan berakhir di Bali Lagi karena kami memang tinggal di Bali. Selama perjalanan kami menemui hal-hal menarik tetapi kami hanya akan membahas perjalanan kami ke Madura saja.  Kami telah menyiapkan perjalanan ini dengan mengumpulkan informasi mengenai tempat wisata di Blitar, Kediri, Nganjuk, Trenggalek dan Madura di www.jawatimur.com.

Sebenarnya perjalanan ke Madura akan kami lakukan pada hari pertama tetapi karena satu dan lain hal maka akhirnya kami lakukan pada hari terakhir. Rencana awalnya adalah sehari sebelum Lebaran kami berangkat ke Madura dan menginap di Pamekasan. Setelah sholat Ied kami melanjutkan perjalanan ke Sumenep dan dari Sumenep kami melanjutkan perjalanan ke Bangkalan kemudian lanjut ke Madiun sambil mengunjungi tempat wisata.
Ada 4 Kabupaten di Madura yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Perjalanan kami ke Madura dimulai dari Gresik pada tanggal 14 September 2010. Jarak antar kabupaten adalah Bangkalan – Sampang 56km, Sampang – Pamekasan 31km, Pamekasan – Sumenep 64km. Kami meninggalkan Gresik pada pukul 08:30 pagi setelah bersilaturahmi di keluarga kami. Cuaca sangat cerah dan jalan dari Gresik ke Surabaya masih lengang karena masih suasana Lebaran. Untuk mengetahui situasi jalan di Madura kami mendengarkan program Kelana Kota di radio Suara Surabaya gelombang 100.00 FM. Kami mendapatkan berita bahwa terjadi kemacetan di pasar sebelum Blega tetepi kami berpikir bahwa kemacetan akan berakhir sesampainya kami di sana. 
Kami sampai di Bangkalan pada pukul 09:30 dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Sumenep Kabupaten paling ujung timur Madura.  Jalan utama yang kami lalui lumayan halus bahkan kami sempat memacu kendaraan sampai kecepatan 90 Km/jam tetapi yang membuat kami heran adalah jalan aspal yang berwarna putih. Kami baru tahu bahwa warna putih tersebut dikarenakan campuran batu untuk mengaspal adalah batu kapur. Sepanjang perjalanan di sisi kanan jalan dari Bangkalan ke Pamekasan terdapat Asmaulhusnah yaitu 99 asma Allah.

Sebelum memasuki Kecamatan Blega ternyata kemacetan tersebut kami alami juga yaitu adanya pasar tumpah. Kami harus mengantri kurang lebih 30 menit karena kemacetan tersebut.  Setelah melewati kemacetan kami memacu kendaraan kami lagi dan suasana cukup lengang. Yang perlu di waspadai adalah jalanan yang berlubang dan tidak adanya SPBU antara Bangkalan sampai Sampang. Ciri khas dari pasar yang ada di Madura adalah semua pasar tersebut mepet ke jalan raya sehingga pada hari biasa akan menimbulkan kemacetan juga. 

Kami memasuki kota Sampang menjelang tengah hari dan kami hanya lewat di jalan utamanya saja karena tujuan kami di Sampang adalah Pantai Camplong. Sebelum memasuki pantai Camplong kami berhenti sejenak di SPBU untuk ke kamar kecil. Pada saat kami masuk ke mobil Bapak saya mencium bau busuk yang sangat menyengat dan kami tidak mengetahui bau apa itu. Sesampainya di Pantai Camplong kami mendapatkan pemandangan pantai yang indah. Sepanjang pantai para nelayan menambatkan perahunya yang beraneka warna membuat pantai Camplong semakin hidup. Di pantai ini tidak seperti pantai yang landai tetapi sangat curam. Beberapa keramba juga dibangun di sepanjang Pantai Camplong sehingga memberikan kesan unik. 
Puas melihat pemadangan Pantai Camplong kami melanjutkan perjalanan ke Pamekasan dan kami sampai di sana sekitar pukul 12:30. Kami langsung mencari tempat makan siang dan pilihan kami adalah Bebek Goreng Pandan Wangi di Jl. Trunojoyo 86 Pamekasan. Kami penasaran dengan bebek goreng khas Madura karena sepanjang jalan dari Bangkalan banyak warung-warung yang menjual Bebek Goreng. Kami berpikir mungkin ini sama dengan di Lombok dimana banyak warung-warung yang menjual Ayam Taliwang. Di restoran kami bertemu dengan Pak Henry yang kebetulan sesama pembeli di restoran tersebut. Beliau menjelaskan adat istiadat Madura sampai lokasi wisata di Sumenep. Beliau bilang bahwa orang Madura tidak seperti yang digambarkan kebanyakan orang yaitu keras tetapi sebenarnya mereka itu sopan, halus dan suka menolong. Kami lega dan senang dengan penjelasan tersebut. Kami memesan bebek goreng untuk makan siang kami dan ternyata yang unik adalah sambalnya yaitu rajangan mangga muda dicampur dengan sambal. Pedas memang tetapi karena rasanya yang segar kami akhirnya menghabiskan sambalnya. Ini mengingatkan sambal yang sama saat kami berada di Makasar yaitu rajangan mangga muda. Yang mengejutkan adalah anak kami yang pertama Riza sampai dia menambah porsinya. Hal yang sangat jarang terjadi karena dia susah sekali makan  . Setelah kami makan siang kami melanjutkan perjalanan menuju Sumenep setelah kami berputar-putar di kota Pamekasan. 

Mendekati kota Sumenep banyak di jumpai penjual Siwalan dan Legen dimana kami sempat membeli buah Siwalan tersebut. Memasuki kota Sumenep waktu sudah menunjukkan pukul 14:30 dan kami memutuskan langsung menuju ke Kraton Sumenep. Kami bertanya kepada orang di pinggir jalan arah ke Kraton dan ternyata benar penjelasan Pak Henry. Begitu kami memarkir kendaraan dan mendekati orang tersebut mereka sudah berdiri dan bahkan menghampiri sambil bertanya “Mau kemana?” Mereka menjelaskan dengan dengan jelas dan sempat mengajak ngobrol. Memang benar mereka jauh dari kesan kaku tetapi ramah, sopan dan suka membantu. 
Sesampainya di Kraton kami membeli tiket masuk dan pertama kami masuk kraton melalui museum. Kami diantarkan oleh guide dari kraton mengelilingi lokasi kraton. Puas mengelilingi kraton kami melanjutkan perjalanan ke Asta Tinggi yaitu makam raja-raja Sumenep. Makam tersebut berada di dataran tinggi sehingga apabila kita berdiri membelakangi Asta Tinggi kita melihat kota Sumenep dan pemandangan laut dari ketinggian. Makam tersebut dibagi menjadi 2 bagian yaitu makam untuk sesepuh dan makam untuk keturunan generasi berikutnya. 

Setelah dari Asta Tinggi perjalanan kami lanjutkan ke Masjid Agung yang konon masjid tersebut dibangun pada tahun 1700an. Ornamen masjid tersebut nampak unik pada pintu gerbang luar yang berbentuk seperti benteng. Kami melakukan sholat di bagian dalam masjid walaupun bisa dilakukan diluar. Ornamen di bagian dalam tidak kalah menariknya dengan adanya kaligrafi, bentuk jendela masjid yang sangat besar, tiang yang besar dan adanya pedang yang di tempatkan di atas mimbar.

Selesai sholat kami langsung menuju Kali Anget yaitu pelabuhan paling ujung di Kabupaten Sumenep. Selama perjalanan kami melintasi perumahan karyawan PT Garam Persero yang dicat warna orange. Pemandangan ini sangat mencolok dan yang lebih menarik adalah pabrik/gudang dari PT Garam tersebut juga dicat warna yang sama. Kami hanya mengambil beberapa foto di sana dan menurut informasi bahwa jadwal kapal fery dari Kali Anget menuju Pelabuhan Jangkar hanya berangkat  jam 20:00 dan sampai di sana pukul 24:00. Sedangkan dari Pelabuhan Jangkar akan berangkat pukul 12:00 dan sampai di Kali Anget pukul 16:00.
Kami meninggalkan Kali Anget pukul 17:00 menuju Surabaya untuk melanjutkan perjalanan ke Malang. Kami kehilangan arah ketika memasuki kota Sumenep dan lagi-lagi kami mendapat bantuan dari pemuda yang kami tanyai di trafic light. Dia bahkan mengantarkan kami sampai di jalan menuju ke luar kota. Sekali lagi benar apa yang dikatakan Pak Henri. Jalan utama menuju Pamekasan sangat lengang setelah pukul 17:00 tidak seperti tadi siang. Kami bahkan mampu memacu kendaraan sampai 110 km/jam.

Sesampainya di Pamekasan kami mampir di obyek wisata Api Yang Tak Kunjung Padam. Kami sempat terlewat saat melewati jalan masuk ke obyek tersebut dikarenakan tidak adanya tanda yang jelas dari arah Sumenep tetapi ada penunjuk arah yang jelas apabila dari Bangkalan. Jalan menuju obyek tersebut sangat gelap dan sepi ditambah lagi jalannya rusak. Kami sempat kawatir dan berpikir kalo tempatnya sepi kami akan melihat api tersebut dari dalam mobil dan berputar mengelilingi api tersebut. Sesampainya di lokasi dugaan kami meleset ternyata ramainya seperti pasar malam. Banyak pengunjung, pedagang dan penduduk setempat berada disekitar lokasi api. Kami sangat terheran dan meyakini bahwa ini adalah salah satu dari kebesaran Allah karena api muncul di mana-mana dari dalam tanah. Walaupun sudah dipagari api tetap muncul di celah-celah pagar yang retak. Banyak pengunjung yang membakar jagung, membakar daging ayam bahkan ada yang membawa panci untuk merebus telur, jagung atau membuat mie. Kami tertarik untuk ikut membakar jagung dan kami membeli 6 buah dengan harga Rp. 5.000 di penjual jagung yang banyak terdapat di sekitar lokasi. Kurang dari 5 menit ke enam jagung kami matang karena besarnya api. 
Setelah menghabiskan semua jagung kami berangkat menuju Surabaya dan melewati Jembatan Suramadu. Kami sempat mencuri-curi kesempatan untuk berfoto dengan background jembatan di malam hari. Jembatan tersebut sangat indah di malam hari karena dihiasi lampu yang berwarna warni yang selalu berubah-ubah warnanya. Jalanan cukup lengang dan kami memacu kendaraan sampai 130 Km/jam.
Setelah sampai di Surabaya kira-kira pukul 22:30 kami makan malam di daerah pasar Keputran dan sholat di masjid Al Iklas. Setelah selesai sholat kami baru mengetahui ternyata bau busuk seperti belerang yang kami cium waktu di Madura tadi siang berasal dari aki mobil kami yang konsleting. Hal ini mengakibatkan air aki menjadi mendidih dan badan aki sangat panas sekali. Setelah kami cek ke bengkel siaga kami disarankan untuk berjalan pelan-pelan dan mengganti aki. Sayangnya mereka tidak memiliki stok aki.  Akhirnya kami tetap mengendarai mobil kami sampai ke Malang dengan kecepatan rata-rata 60 Km/Jam dan akhirnya kita sampaidi Malang pukul 02:30 pagi. 

Walaupun melelahkan perjalanan singkat kami ke Madura sangatlah berkesan. Hal ini disebabkan karena alamnya yang indah dan keramahan penduduknya. Suatu saat kami akan kembali mengunjungi pulau tersebut karena masih banyak obyek wisata di Madura yang belum kami singgahi. Terima kasih Madura.............

Diposting oleh Yoga