Monday, August 11, 2008

trip 2 blitar

4-6 June 2008
(Perjalanan nebeng tapi jadi rekreasi beneran karena saya dianggap tamu oleh keluarga teman saya di Blitar. Kalau ingat itu jadi sungkan banget. Tapi tetep disyukuri deh, terimakasi banyak untuk keluarga dokter Sukardi dan pak Pitono sang sopir)

Hari ke-1
Biasanya perjalanan ke Blitar dari Surabaya bisa dicapai 2,5 - 3jam. Tergantung kepadatan lalulintas. Kala itu kami mampir ke Malang terlebih dahulu.
Selepas dari Malang kami melewati bendungan Karang Kates, karena keterbatasan waktu dan ternyata loket masuknya tutup maka kami tak sempat menyaksikan kemegahan bendungan besar di jawa timur ini. Kami melewati bendungan versi mininya, bendungan Lahor. Ada taman dan tempat berhenti yang disediakan. Ada beberapa penjual bakso dan es yang nongkrong di pinggir jalan. Kami menepikan mobil dan turun untuk menikmati pemandangan air dan bangunan bendungan. Parkir gratis kala itu, mungkin bukan hari libur.



Sesampainya di Blitar kami dimampirkan ke rumah bu Wardhoyo karena sejalan. Kala itu sudah jam 5, mestinya sudah tutup, tapi kata pak Pit tak apa kami meminta kunci rumah di rumah samping (yang ternyata kerabat bu Wardhoyo, bukan sekedar penunggu atau sejenisnya). Di area rumah bu Wardhoyo sendiri terdiri dari beberapa bangunan dan dihuni beberapa keluarga.

Rumah bu Wardhoyo sendiri sudah tidak ditempati, walaupun perabot ruangan-ruangan yang ada masih ditata sesuai fungsinya. Di bangunan belakang ada kamar mandi, ruang makan, dan garasi berisi mobil yang sudah tua banget. Secara keseluruhan saya kurang tertarik dengan interior penataan dan barang-barang di dalamnya. Di ruang depan terdapat banyakan lukisan Bung Karno dari berbagai pelukis dan foto-foto tentunya. Tapi berbeda sekali tingkat kenikmatannya seperti ketika mengunjungi house of Sampoerna Surabaya. Dan karena cahaya sudah minim sekali, saya malas mengambil barang menggunakan flash maka saya tak banyak mengambil foto di dalam.
Disediakan kotak untuk sumbangan sukarela, untuk mengambil foto sumbangan minimal 5rb.

bendungan Lahor & mrs wardhoyo's house

Hari ke-2
Tujuan pertama Makam Bung Karno. Sebenarnya area itu tertutup untuk mobil, parkir mobil disediakan tersendiri dan agak jauh. Ini dimaksudkan supaya pengunjung dapat berjalan kaki melewati kios-kios suvenir atau menaiki becak. Tapi itu tak berlaku untuk kami:p Pak Pit cuma menurunkan kami tepat di samping perpustakaan dan mereka akan menjemput kami setelah beberapa jam.

Ternyata dibangun sebuah bangunan baru di area Makam Bung Karno. Arsitekturnya bergaya minimalis modern, sangat bagus, ngga ada di Surabaya. Di sebelah kiri patung Soekarno yang sedang duduk dan membawa buku, terdapat museum Soekarno. Kami hanya perlu mengisi buku tamu tanpa perlu dipungut biaya apapun. Peringatan "anda tak perlu membayar apa-apa di area museum" tertempel di beberapa tempat. Isi museum lebih berjiwa Soekarno dan membangkitkan kenangan akan semangat dan jiwa nasionalis Soekarno. Sayangnya urutan kronologis foto kurang rapi. Begitu juga dengan teks penjelasan foto beraneka ragam. Selain bahasa Indonesia,beberapa foto lain keterangannya ditulis dalam bahasa Inggris dan 1-2 bahasa yang tak saya kenal (Belanda kali ya).

Hari itu penuh dengan rombongan anak SD. Sekeluarnya dari museum sembari diserbu pedagang suvenir yang 'lepas dari kandang' kami masuk ke perpustakaan. Sekali lagi kami harus melengkapi buku tamu. Koleksinya boleh juga, layaknya perpusatakaan umum lainnya. Hanya saja ini ber-AC dan jauh lebih bersih. Ada 1 ruangan khusus koleksi mengenai Soekarno. Mungkin beberapa buku terlarang dulu ada di sana. Ada fasilitas lift mungil untuk gedung 2 lantai itu. Lantai 2 belum semuanya ready to be used. Apalagi ruangan di gedung seberang (lantai 2 dari museum), masih tertutup bagi pengunjung.
Di perpustakaan kami menuju ke pendopo tempat nisan Soekarno. Melewati kolam teratai yang tak berbunga dan gedung khusus buku dan penitipan anak-anak (keren yah ada perhatian khusus untuk anak-anak).


Kami masuk ke tanpa mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan sukarela, kami baru tahu keesokan harinya ketika hendak menuju ke area kios suvenir melewati pintu samping, bukan dari perpustakaan.

Begitu banyak warga yang nyekar, kamipun sebelum masuk gapura ditawari bunga-bunga. Pendoponya luar biasa 'mahal'. Penuh ukiran-ukiran indah nan detail mulai dari tiang sampai plafon, dan pasti itu kayu bukan sembarangan juga. Nisan marmernya sih tidak berubah sejak jama dahulu kala. Kalau anda mengambil foto dari arah frontal maka dari nisan seakan-akan muncul singa. i cannot see it anyway, imajinasiku kurang kali ya:p

Jalan keluar dari makam melewati area suvenir. Suvenir yang lagi trend benda-benda bikin ribut seperti gamelan kecil, suling, perkusi, dsb.

tips: masuk dari area perpustakaan dapat menghindari sumbangan sukarela

12.30
Perjalanan kami lanjutkan menuju Candi Penataraan yang tak jauh dari lokasi itu. Lagi-lagi kami dicegat untuk mengisi buku tamu dan sumbangan sukarela. Tak ada tiket. Kami melewati papan keterangan sejarah candi yang lumayan berbelit-belit dan lusuh rupanya. Jadi kami menebak-nebak sendiri sambil menaiki candi yang paling gede.

Ukiran-ukiran yang ada masih terlihat jelas dan lebih indah dibandingkan ukiran di borobudur atau Prambanan. Di belakang, setelah mencari, kami menemukan kolam pemandian yang konon (di mana si sejarah budaya indo yg ga berbau klenik) bisa bikin awet muda. Kata teman, kolam itu dulu ngga sekecil itu. Saya tak menemukan sumber airnya, yang saya bayangkan mengucur tapi saya yakin benar airnya mengalir, karena ada saluran pembuangan. Airnya benar-benar jernih. Dasar pasir dan ikan-ikan di dalamnya terlihat dengan jelas padahal kolam itu tidak dangkal, 2 meter lebih ada. Kami menikmati kejernihan air di bawah keteduhan pohon dan semilir angin. Nyamannnn benarrr...
tips: oleskan sanblock tebal-tebal karena langit cerah dan terik, lagipula berkunjung tengah hari membuat sesi pemotretan terhindar dari manusia yang berseliweran.



13.15
Tujuan berikutnya gunung Kelud, ini sih sudah bukan kabupaten Blitar, kurang lebih 1 jam dari Blitar. Jalanan menuju ke Kelud lewat daerah Nglegok (sepelan "e" nya seperti di kata "serong ke kanan"). Indah banget.. Penuh dengan tanaman tebu yg berbungaaa..... Dengan background gunung.
Kanan kiri hijau.

14.00
Kami sangat beruntung berkunjung bukan sabtu minggu. Krn hari2 itu, jalan menuju Kelud ditutup, ojek beraksi dengan tarif sekitar 10rb sekali jalan. Mau jalan ? Ya masi jauuuh. Sepiii nyaris tak melihat manusia. Trus mestinya waktu melewati pos penjaga kami lapor, tapi krn ga mudeng ya uda terus aja, ketemu warung di gate yg ditutup (scr resmi emang Kelud ga bole dikunjungi, dasarane org Indo). Kami, aku , Irma, pak Pit jalan. Bu Sukardi menunggu di warung ajah:D

Kawah ijo yg indah itu dah ga ada. Tertutup smua ama anak gunung baru. Kami bahkan sudah tdk bisa lihat lahar meleleh keluar kalo sore2. Uda 2 th sejak letusan itu..yah...
Sepi, sejuk, asap2 keluar dr samping2 n bawah gunung kecil itu.
tips: gunakan sepatu sneakers atau yang nyaman untuk jalan menanjak walaupun semua jalan telah di-aspal

more pictures:
Makam BK, candi Penataran


Hari ke-3
Kami sarapan di rumah makan Pasific dengan nasi bakmoy halalnya yang terkenal itu.
Tujuan kami hari itu adalah pantai Tambak Rejo. Sekitar 1 jam dari Blitar melewati gunung dengan aspal yang terjal dan tak selebar jalan menuju ke Kelud. Sekali lagi kami tiba di saat matahari sangat terik. Loket tutup, kondisi sangat sepi. Tapi itu tidak menyurutkan kekaguman kami akan indahnya pantai berpasir putih itu. Pantai Tambak rejo tak terlalu luas, bibir pantai bisa dijangkau dengan jalan kaki bolak balik dalam 30 menitan. Pasirnya bersih, lebih bersih daripada Kuta pastinya! Sayangnya ombak laut selatan terlalu besar untuk sekedar bermain.


tips: sunblock, kunjungi di hari biasa selain sabtu-minggu. Depot sangat jarang ditemui, karena itu bawalah makanan dan minuman sendiri untuk amannya. Tak jauh dari pantai terdapat pasar ikan. Harga ikan salem yang diasap 10ribu dapt 9 tusuk.
Kami sempat mampir ke Goa Embultuk, namun karena tidak membawa baju ganti maka kami urung masuk goa.
Kami juga mampir di beberapa monumen-monumen perjuangan.

15.00
Kami makan siang sore di bakso Gangsar. Bakso ini memiliki beberapa cabang di Blitar. Enak, gurih, beda dengan cita rasa manis khas blitar. Tak lupa kami mampir ke toko di gang untuk membeli oleh-oleh khas Blitar: wajik kletik, sale pisang, keripik jahe.

16.30
Saya meninggalkan Blitar menuju Malang bersama teman yang rela mampir dan gabung.

3 Comments:

welcome to my blog said...

kalo' punya foto yang lebih banyak tentang pantai tambak rejo segera di publish donk, cz aq penasaran banget................????/

val said...

Foto-fotonya udah di upload di http://y3nnyw3n.multiply.com/photos/album/32/blitar_day_3_Beach

welcome to petawisata :)

cah alittt said...

wah enak nih liburan dengan penuh perjuangan.....ha ha ha

http://jeparapoenya.blogspot.com/